Ads 468x60px

Pages

Subscribe:

Labels

Minggu, 09 Juni 2013

Kegagalan Kaderisasi Parpol

Krisis pemimpin nasional ternyata masih menghantui bangsa kita. Munculnya stok lama yang akan bertarung dalam bursa pencalonan presiden 2014, menjadi bukti bagaimana proses regenerasi pemimpin nasional mengalami kemandulan.
Menurut pengamat politik Gun Gun Heryanto, sulitnya regenarasi pemimpin nasional karena disebabkan kegagalan partai politik dalam melakukan kederisasi. Menurutnya tradisi kepartaian di Indonesia masih dominan dengan tradisi feodal, oligarkis, dan transaksional.
Tradisi feodal ini bisa dilihat dari ketergantungan partai terhadap figur tertentu. Meski tradisi ini sudah tidak relevan lagi di alam demokrasi, namun tidak sedikit dari partai politik kita masih mempraktekannya.
Sedangkan oligarki bisa dilihat dari pola distribusi dan alokasi kader partai ke jabatan publik yang ditentukan oleh segelintir elite partai. Penentuan calon pejabat eksekutif atau calon pejabat legislatif harus mendapat restu dari pimpinan pusat partai.
Sementara praktik transaksional dapat dilihat dalam proses politik yang memiliki biaya tinggi karena ditentukan oleh siapa yang bisa memiliki kekuatan hadiah (reward power) berlebih. Artinya, mereka yang punya uanglah yang akan mengendalikan seluruh kebijakan partai. Tradisi inilah yang menurut Gun Gun sudah mapan dan terpola mereduksi pola-pola regenerasi.
Politik Figur
Sejak era reformasi banyak figur yang mendirikan partai politik. Namun ironisnya partai yang mereka dirikan tak mampu melahirkan figur yang mampu menggantinya.
Partai sebesar PDI Perjuangan sampai saat ini belum bisa lepas dari pengaruh megawati. Bukti dirinya maju kembali dalam bursa pencalonan presiden menjadi indikator gagalnya partai tersebut melahirkan figur yang seimbang dengan Mega.
Sementara partai Demokrat yang menjadi pemenang pemilu kemarin tak bisa lepas dari figur SBY. Apalagi saat Anas Urbaningrum dijadikan tersangka oleh KPK, SBY sendirilah yang turun tangan menghadapi Anas terkait pernyataannya di media untuk membuka halaman-halaman baru yang belum dibaca. Kader partai Demokrat yang lain seakan kewalahan menghadapi mantan ketua umumnya itu.
Terpilihnya SBY menjadi ketua umum sementara pada kongres partai Demokrat, menjadi bukti bagaimana sosoknya menjadi figur sentral partai tersebut. Partai yang didirikan oleh SBY ini dinilai gagal melahirkan figur yang sanggup menyamai sosoknya.  
Partai seperti Hanura, Gerindra dan lainnya juga tak bisa lepas dari figur masing-masing pendiri partai. Hanura yang kembali mengusung Wiranto sebagai capres dan Gerindra yang mengusung Prabowo, membuktikan bagaimana banyak partai yang didirikan oleh seorang figur, tak mampu melahirkan figur yang sepadan untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinannya.
Bukan tidak mungkin, jika partai-partai tersebut ditinggal sang figur akan mengalami penurunan elektabilitas secara drastis. PKB bisa menjadi contoh konkrit akan hal ini. Sejak ditinggalkan Gusdur, suara PKB mengalami penurunan yang sangat tajam. Survai yang dilakukan oleh lembaga klimatologi politik (LKP) menunjukan, peringkat PKB diperkirakan berada diurutan kesembilan dibawah PKS dan PAN. Ini berbeda jauh saat Gusdur masih ada, peringkat PKB selalu diurutan tiga besar di atas partai Islam lain.
Jika Parpol tersebut ingin tetap eksis di panggung perpolitikan nasional salayaknya mereka merumuskan kembali sistem pengkaderan partai yang selama ini terkesan mandeg. Karena bagaimanapun juga meminjam bahasa Lili Romli, peneliti LIPI “Kaderisasi merupakan bahan bakar untuk menghidupkan parpol. Bukan hanya untuk menjaring pendukung, tetapi juga menjaga keberlangsungan masa depan partai”. 

0 komentar:

Posting Komentar