Ads 468x60px

Pages

Subscribe:

Labels

Minggu, 09 Juni 2013

Becoming Jane: Kisah Tragis Penulis Besar Inggris


Bagaimana jika kita dihadapkan pada dua pilihan antara cinta dan keluarga. Mana yang dipilih? Kita mungkin punya jawaban sendiri-sendiri mana yang jadi pilihan. Begitu juga Jane Austen tokoh utama dalam film ini.
Film ini merupakan sepenggal kehidupan dari kisah cinta novelis besar Inggris,  Jane Austen penulis Pride & Prejudice yang hidup pada abad 18 .
Jane Austen (Anne Hathaway), lahir sebagai anak pendeta yang mengalami kesulitan finansial. Hidupnya  yang serba pas-pasan membuat ibunya (Julie Walters) mengharapkan anaknya menikah dengan Mr. Wisley (Laurence Fox), keponakan Lady Gresham (Maggie Smith), wanita kaya raya yang akan mewariskan seluruh hartanya pada Mr. Wisley.
Meski Mr. Wisley tertarik pada Jane. Namun Jane tak merespon. Melihat sikap Jane yang menolak pinangan pria sekaya Mr. Wisley, membuat hati ibunya dongkol. “Tuan Wisley adalah seorang pria muda yang sangat memenuhi syarat, Kau tahu kesulitan kita, Jane. Apakah kamu lebih suka jadi perawan tua yang miskin?”.
Meski ibunya terus-menerus memintanya untuk menikah dengan Mr. Wisley, namun Jane tetap berpendirian untuk menikah hanya pada orang yang ia cintai. Jane memang terkesan mendahuli zamannya.
Zaman ketika wanita harus tunduk pada keinginan orang tua. Zaman ketika wanita menjadi penulis dianggap aib. Jane berani untuk bersikap berbeda.
Jane malah memilih sosok Tom Lefroy (James McAvoy), mahasiswa hukum yang miskin dan bengal.  Meski kesan pertama Jane pada Tom begitu jelek karena sifat arogan dan tak kenal sopan santun, tapi pada akhirnya Jane malah menaruh hati padanya.
Kisah cinta Jane pada Tom berawal dari kritikannya terhadap tulisan yang ia bacakan pada sebuah acara  keluarga. Semua orang memuji tulisan Jane. Dan hanya pemuda bengal itu yang mengkritik tulisannya. Tom mengatakan bahwa tulisan Jane hanya untuk kalangan remaja. Dangkal isinya.
Mendengar cemoohan itu, Jane sangat marah. Ia lari ke kamar merobek tulisannya. Ia melihat-lihat koleksi tulisannya yang lain dan kecewa melihat semua yang ia tulis.
Besoknya, tanpa disengaja mereka berdua kembali bertemu di sebuah hutan. Disitu Jane mengutarakan pembelaan atas kritik yang dilayangkan padanya. “Perempuan yang menulis novel hanya kemiskinan yang didapat, pembacanya hanya dari kalangan wanita dan karyanya dianggap tak bermutu. Bahkan Tuhan pun melarang apa yang ditulis perempuan. Seakan tulisan perempuan tidak menampakan pikiran yang besar ,” Ungkap Jane kesal.
Suatu hari Jane pergi dengan ibunya ke kediaman Nyonya Lefroy. Ia meminta izin padanya untuk melihat koleksi perpustakaannya. Saat dia mencari-cari buku, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran Tom. Dalam pertemuan itu, lagi-lagi Tom membicarakan mengenai tulisannya. “Jika ingin setara dengan penulis fiksi laki-laki maka tulisan anda harus bersandar pada pengalaman”. Setelah itu Tom memberikan buku berjudul History Of Tom Jones pada Jane.
Kesan buruk Tom di mata Jane sedikit demi sedikit mulai berangsur pudar. Lewat pertemuan demi pertemuan akhirnya Jane mulai mengetahui karakternya. Sikapnya yang arogan dan tak kenal sopan santun hanyalah muslihat untuk menyembunyikan watak aslinya. Akhirnya mereka berdua pun jatuh cinta.
Kisah cinta mereka langsung mendapat ujian. Ketika Tom membawa Jane ke rumah pamannya (Ian Richardson) yang menjadi hakim di kota, pamannya tak menyetujui hubungan mereka. Usut punya usut, ada seorang yang mengirimkan surat pada pamannya dan memberitahunya bahwa Jane hanyalah gadis miskin dan penulis amatir.
Meski tidak mendapat persetujuan dari pamannya, Jane meminta Tom untuk tetap menikahinya. Namun bukannya anggukan yang di dapat malah sebuah kata penolakan dari kekasihnya itu. Tom mengatakan kalau dirinya bergantung sepenuhnya pada pamannya. Jane begitu kecewa melihat keputusan yang diambil kekasihnya tersebut. Akhirnya ia memutuskan kembali ke keluarganya.
Kedatangan Jane ke rumah langsung disambut hangat keluarganya. Ibunya yang dulu selalu memaksakan kehendaknya, tiba-tiba begitu hangat menyambut kedatangannya. Dan hari-hari yang dilaluinya kini tanpa ada paksaan dari ibunya untuk menikah dengan Mr. Wisley.
Saat Jane dan saudaranya sedang berjalan-jalan di hutan, tiba-tiba Tom muncul dihadapanya dan mengajaknya untuk kawin lari.  Jane yang sempat ragu akhirnya luluh melihat kesungguhan kata-kata yang keluar dari mulut kekasih yang sangat dicintainya itu.
Mereka berdua pun akhirnya kabur untuk menikah di London. Namun belum sempat sampai London, tiba-tiba kereta kuda yang mereka tumpangi terprosok dalam kubangan lumpur. Saat Tom hendak melepaskan jasnya untuk membantu mendorong kereta,  dompetnya terjatuh. Jane yang melihat dompet itu langsung mengambilnya. alangkah kagetnya dia saat membaca  isi surat yang terselip di dompet tersebut. “Kepada Tom. Seberapa tepat waktu kedatangan uang yang  kamu kirimkan. Itu sangat berharga bagi ayah dan aku. Kau begitu baik untuk berbagi uang saku dari pamanmu. Bagaimana kami akan bertahan hidup tanpa itu.”
Setelah membaca seluruh isi surat itu, Jane dihadapkan pada situasi yang begitu dilematis. Apakah dia akan tetap kawin lari dengan Tom? Jika dia tetap kawin lari bagaimana dengan nasib keuangan keluarga Tom yang seluruhnya bergantung padanya?
Sebuah pilihan yang sulit. Namun harus ada sebuah keputusan. Akhirnya Jane dengan mantap memutuskan untuk tidak melanjutkan perkawinan yang sudah di depan mata itu. Usaha Tom untuk meyakinkan Jane kali ini tidak berhasil. Jane tetap bersikukuh pada pendiriannya. Baginya pernikahan mereka hanya akan menghancurkan keluarga Tom yang sepenuhnya bergantung padanya. Akhirnya mereka berdua pun berpisah.
Dua puluh tahun kemudian, yang juga menjadi ending film ini, mereka berdua kembali bertemu. Kali ini Jane sudah menjadi penulis novel terkenal namun memutuskan untuk tidak menikah. Sedangkan Tom sudah menjadi Hakim dan memiliki seorang putri.
Jane Austen sampai akhir hayatnya tetap tidak menikah. Ia meninggal pada usia 42 tahun. Novel karya-karyanya yang menjadi masterpiece antara lain: Pride and Prejudice, Sense and Sensibility,  Emma, Mansfield Park, Northanger Abbey, dan  Persuasion.

3 komentar:

valentina mengatakan...

Baru kemarin nonton filmnya dan .... sebuah kisah yg manis .... :) walau endingnya mereka berdua tak bisa bersama.

Unknown mengatakan...

Aq gak suka endingnya
Memang penulis itu idealisnya tinggi
Sampe hrs kehilangan cintanya
Tapi keidealisannya tdk membuatnya egois
Menurut dia cinta keluarga itu labih penting

Unknown mengatakan...

kebahagian kedamaian kenyamanan tersendiri

Posting Komentar