Ads 468x60px

Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 November 2021

Pengamat yang Bias

 Baru saja baca berita di media online. Ada pengamat yang bilang begini: kereta cepat tidak akan balik modal sampai kiamat!

Bagi saya itu reaksi yang sangat berlebihan. Hiperbolis. Dan sarat rasa dongkol dan marah. 

Memang tidak ada yang salah dengan perasaan semacam itu. Cuma yang jadi persoalan, jika perasaan semacam itu digunakan untuk menilai suatu persoalan. Yang muncul malah bias dan tidak obyektif.

Bukankah tugas pengamat itu harus menilai dengan terukur dan obyektif. Tidak masalah, misalnya kita sebagai pengamat kurang suka dengan pemerintah. Tapi ketika sudah bicara di depan publik, sebagai pengamat harus mengedepankan nilai obyektivitas. Jangan sampai perasaan tidak suka. Marah. Dan perasaan negatif yang justru mempengaruhi penilaian terhadap persoalan.

Kalau pengamat tidak bisa mengendalikan perasaan negatifnya, alangkah lebih baik untuk tidak bicara terlebih dahulu di depan publik. Karena publik harus diselamatkan dari informasi yang tidak sehat. Bias. Dan penuh rasa benci. Karena untuk menciptakan masyarakat yang mentalnya sehat, mereka pertama kali harus mendapat informasi yang juga sehat. 

Rabu, 17 Maret 2021

Cerita Miris Si Miskin yang Istrinya Meninggal

Miris. Kata kata ini mungkin yang tepat untuk menggambarkan cerita di bawah ini. Barusan di kompas.com ada berita soal suami yang susah payah cari hutangan untuk mengubur jenazah istrinya yang meninggal. Sang isteri meninggal terkena penyakit kelenjar getah bening. Usianya baru 30 tahun. 

Istrinya meninggal hari minggu (14/3). Si suami tidak ada di tempat karena sedang bekerja. Setelah pulang kerja sekitar jam 3 sore, si suami mendapati tubuh istrinya sudah meninggal. Sekitar jam 4 sore, suaminya membawa jenazah sang istri ke rumah sakit. Sekitar 9 jam berada di rumah sakit, jenazah istrinya di bawa pulang ke kos an. 

Si suami, menurut penuturan tetangganya keluar kos an untuk mencari lokasi pemakaman dan balik lagi jam 9 pagi. Kemudian si suami keluar lagi untuk mencari ambulans dan menitipkan jenazah istrinya ke pemilik kos dan tetangga kosan nya. 

Si suami belum kembali dari mencari ambulans, tetangga kos an kemudian melapor ke polisi jam 11 pagi. Setelah warga lapor ke polisi, selang beberapa saat kemudian suami datang membawa ambulans gratis dari PMI. 

Dari kronologi berita tadi, saya justru bertanya soal sikap para tetangganya. Kenapa baru ditinggal dua jam untuk mencari ambulans kemudian melapor ke polisi? Apakah para tetangganya tidak bisa membantu mengurus jenazah.

Tetangganya bilang begini:

"Kasihan sudah meninggal, namun jenazah tidak segera dimakamkan, padahal sudah hampir 24 jam telantar di kamar kos."

Kalau memang kasihan kenapa tidak bahu membahu membantu kesusahan orang yang ditimpa kemalangan. Apakah di sana tidak ada orang yang bisa mengurus jenazah? Apakah di tempat itu tidak ada perangkat RT/RW dan perangkat desa?  

Apa penyebabnya? Apakah mungkin karena bukan warganya dan hanya numpang ngekos lalu jenazah dibiarkan begitu saja tanpa ada tetangga yang mau mengurus? Kalau alasannya benar seperti itu, saya kira kemanusiaan mereka patut dipertanyakan. 

Ungkapan kasihan seperti tetangga di atas pernah saya dengar beberap tahun lalu. Waktu itu, saya masih di pesantren. Ada salah satu pengurus yang menikah. Pengurus pesantren yang menikah ini kondisi ekonominya pas pas an. Jadi resepsinya sangat sangat sederhana. Resepsinya diadakan di halaman samping pesantren yang ukurannya hanya 4x4 meter. Singkat cerita, setelah selesai resepsi,  pasangan pengantin ini langsung membersihkan tempat yang digunakan untuk resepsi. Mulai dari angkat meja, kursi dan menyapu halaman  pesantren. Padahal itu adalah malam yang seharusnya sangat spesial bagi mereka berdua. Dan teman teman saya yang di pesantren hanya ngegosip dan bilang, "Kasihan ya kang A. Padahal ini malam pertamanya."

Apa yang saya lakukan. Saya bilang ke mereka. "Jangan cuma bilang gitu.  Ayo bantu."

Dan coba tebak. Yang akhirnya turun ikut bantu hanya saya dan teman saya satu orang. Dan mayoritas mereka tidak mau turun. Dengan berbagai dalih dan alasan. 

Moral cerita ini adalah: Banyak di luaran sana, ketika ada seseorang yang kena musibah atau kesusahan itu hanya bilang kasihan dan ngegosip. Tapi ketika suruh bantu, mereka ada saja alasannya. Bagaimana dengan anda? Apakah pernah mengalami kejadian seperti ini juga....




Senin, 15 Maret 2021

Lamanya Mengurus Kartu Keluarga

Hari ini saya ke kecamatan pengin ngurus soal kartu keluarga dan KTP. Ini sudah tiga bulan, sejak saya memutuskan cabut berkas dari daerah tempat tinggal lama.

Sebenarnya KK saya itu sudah jadi bulan lalu. Tapi ketika dicetak ada data yang salah. Berkas akhirnya saya kembalikan lagi, takut suatu saat malah bikin ribet kalau ada data yang berbeda. Data yang berbeda itu soal keterangan RT. Harusnya saya tinggal di RT 02 tertulis 03. 

Saya sampai kecamatan sekira jam 10 pagi. Antrian sudah sangat panjang. Tidak ada istilah jaga jarak. Orang saling berdempet ingin segera dilayani petugas. Petugas yang jaga di depan hanya dua orang. Mereka berdua terlihat sangat kewalahan menangani begitu banyak orang yang berdesakan. 

Saya akhirnya menunggu agak jauh sambil melihat berkurangnya antrian. Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, antrian sudah mulai agak lengang. Paling tinggal 7 orang yang mengrubungi dua petugas itu.

"Ini KK dan KTP saya sudah jadi belum pak?" tanya saya sambil menyodorkan draft KK dan tanda bukti pengurusan KTP.

"Lebih baik, foto copy dulu. Nanti saya masukin nomor antrian. Empat hari datang ke sini lagi saja sambil bawa bukti KK dan nomor antrian tadi. Terus bukti pengurusan KTP juga di copy ya. Nanti tulis saja No HP masnya di tanda bukti KTP itu. Nanti akan kami kabari lewat HP kalau sudah jadi," jawab petugas tadi sambil sibuk menata berkas.

Melihat jawaban petugas tadi, saya kok heran. Zaman sudah maju begini kenapa mengurus soal KK dan KTP bisa berbulan bulan begini. Saya melihat ada gap yang sangat besar antara kemajuan zaman dengan pelayanan Pemerintah kita. Terutama di Pemerintah daerah.

Zaman sekarang. Orang orang bilang adalah zaman digital. Segala sesuatu bisa dikerjakan dengan sangat cepat. Tapi entah kenapa Pemerintahan masih sangat lamban dalam bekerja.

Kenapa soal adminstrasi kependudukan mengurusnya perlu waktu berbulan bulan. Apakah persoalan adminstrasi kependudukan seperti pembuatan KK dan KTP itu tidak bisa lebih cepat? 

Aturan kependudukan kita sebenarnya telah bikin standar itu. Misalnya untuk pelayanan KK itu standarnya selesai dalam 7 hari. Tapi fakta di lapangannya sangat jauh panggang daripada api. Saya sendiri telah cerita kalau KK saya baru jadi setelah dua bulan. Itu pun ketika ada kesalahan harus menunggu kembali. Ini sudah jalan 1 bulan tapi belum ada kejelasan kapan revisi KK saya selesai.

Daerah yang sudah sangat bagus soal standar pelayanan kependudukan itu DKI. Itupun hasil dari reformasi yang dilakukan mantan gubernur Ahok. Dan saya berdoa semoga ke depan Indonesia punya kepala daerah yang seperti Ahok. Seorang reformis yang berani merubah sistem di pelayanan Pemerintahan.


Mahalnya Biaya Masuk TK

Teman saya cerita kalau anaknya baru saja masuk TK. Dia ingin anaknya dapat pendidikan yang terbaik sejak usia kanak kanak. Dia pilihlah satu TK favorit di sekitar rumahnya. 

"Berapa sekarang biaya masuk TK bro?" Tanya saya.

"Lumayan lah. Bisa bikin gue kudu mengencangkan ikat pinggang," Jawab dia sambil tertawa.

"Berapa spp per bulannya, 500.000?"

"Lebih bro. Spp per bulan 1.100.000"

"Kalau uang pangkal masuknya berapa bro?" Kembali saya bertanya penasaran.

"Untungnya biaya uang pangkalnya sejak belum lahir gue sudah nabung di tapenas. Jadi ya ngga terlalu berat," ungkapnya.

"Uang pangkalnya 16 juta. Makanya gue juga pengin bikin tapenas lagi buat nanti masuk SD dia," ujar teman saya. 

Saya mendengar nominal 16 juta sudah tidak terlalu kaget. Karena nominal itu jauh lebih rendah di banding sekolah TK unggulan di ibukota. 

Cuma saya jadi berpikir aja. Di republik ini untuk mencari pendidikan yang bagus itu ongkosnya tidak murah. Bagi saya yang cuma pekerja kantoran, kudu benar benar menabung demi mendapatkan pendidikan yang terbaik buat anak saya nanti. Paling tidak ide tapenas teman saya bisa saya adopsi. Meski konsekuensinya makan lauk tahu tempe dan selingan daging semingu sekali. Hehe....

Minggu, 14 Maret 2021

Anies-AHY Capres-Cawapres 2024?

 Hari ini, media memberitakan AHY dan Jusuf Kalla mengadakan pertemuan membahas soal politik dan dualisme partai demokrat. 

Pertemuan ini saya kira menarik. Dua belah pihak masing masing sedang direpotkan oleh urusan yang cukup pelik. Keluarga JK saat ini lagi digoyang soal masalah Bank Bukopin dan AHY sendiri soal dualisme kepengurusan.

Terlepas dari hal itu, saya kira pertemuan ini  akan memulai babak baru kemungkinan koalisi Cikeas dan Jusuf Kalla. Jusuf Kalla ingin Anies Maju sebagai Capres. AHY mungkin akan menjadi wakilnya.

Tapi apakah kedua orang ini cukup kuat untuk maju di 2024? Kita lihat saja nanti. Yang jelas, kemungkinan Anies untuk jadi Capres akan menghadapi cobaan berat. RUU pemilu sudah dicabut dari prolegnas. Ini artinya Anies tidak bisa maju lagi menjadi gubernur dan dia kehilangan panggung lagi untuk mencalonlan diri sebagai Capres.

Karena Pilgub Jakarta baru digelar setelah pilpres 2024. Dan Anies nganggur dua tahun tanpa jabatan politik. Ini cukup sulit bagi orang yang tidak disorot kamera. Kecuali Anies punya kegiatan yang bisa nambah citra positif dia. Dan ini saya kira yang perlu dilakukan Tim Anies ke depan. Bagaimana caranya dirinya tetap disorot oleh media. 

Di sisi lain, koalisi ini juga bisa terwujud kalau Demokratnya AHY yang dimenangkan oleh pengadilan. Kalau tidak; sudah tentu Wassalam. Dan makanya mereka berdua hari ini bertemu. Saya kira agenda terbesarnya bagaimana Demokratnya AHY bisa memenangkan pertarungan dengan Moeldoko. Karena jika AHY menang lawan Moeldoko, jadi jalan bagi Anies dan AHY di 2024....





Sabtu, 05 Agustus 2017

The Player of Cigarette Industry in Indonesia: Japan Tobacco Inc.

Source image:http://www.gettyimages.ch

In this week, Japan Tobacco Inc. (JT Group), the largest cigarette company in Japan has signed an agreement to purchase 100% of shares of PT Karyadibya Mahardika (KDM) and its distributor, PT Surya Mustika Nusantara (SMN) for US$ 1 billion (include net debt). On his offical statment, the transaction is expected to be completed in the fourth quarter this year.

Rabu, 17 Mei 2017

Anis Sandi & Saham Bir


Baru-baru ini wacana penjualan saham bir yang dimiliki Pemprov DKI di PT Delta Jakarta Tbk (DLTA) kembali mengemuka. Kali ini datang dari Sandiaga S Uno, wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru terpilih yang menegaskan untuk menjual saham tersebut. Sebetulnya, bukan kali ini wacana penjualan saham bir yang dimiliki San Miguel, perusahaan bir asal Filipina dan Pemprov DKI ini ramai diperbincangkan.

Dua tahun lalu, Fahira Fahmi Idris, anggota DPD yang lebih suka dipanggil senator ini juga terlibat perseturuan dengan Ahok. Gara-garanya Ahok bersikukuh untuk mempertahankan kepemilikan saham Pemprov DKI Jakarta di perusahaan bir tersebut. Padahal, kata Fahira, bir yang diproduksi PT Delta Jakarta itu membahayakan kesehatan dan mematikan satu orang dalam setiap 10 menit (Tempo.co,11/4/15). Entah atas dasar apa Fahira mengemukakan alasan seperti itu.

Senin, 26 Desember 2016

Wijaya Karya & Pinjaman Asing, Siapa Diuntungkan?


Komitmen Pemerintah untuk mempercepat berbagai proyek infrastruktur dengan kondisi fiskal yang serba terbatas, mau tak mau membuat Pemerintah mencari opsi pendanaan dengan pihak luar. Namun pertanyaanya apakah pinjaman dari luar itu menguntungkan pihak Indonesia?

Sabtu, 21 Mei 2016

Apa Kabar Akuisisi Saham Newmont?


bulan lalu, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) tiba-tiba jadi primadona di bursa saham. Hanya dalam waktu beberapa hari saja, saham perusahaan yang bergelut di bidang minyak dan gas itu mampu mencetak return hingga puluhan persen. Penyebab utamanya, tak lepas dari aksi spekulasi para pelaku pasar yang ingin mendulang keuntungan terkait rencana Arifin Panigoro mengakuisisi saham PT Newmont Nusa Tenggara.

Kamis, 19 Mei 2016

Waspadai Pembalikan Modal



Setelah sempat tenang beberapa bulan, kini ekonomi dunia terutama negara berkembang kembali menghadapi cobaan berat dari negara adidaya, Amerika Serikat (AS). Negara paman sam itu rencananya ingin kembali menaikan suku bunga acuannya pada bulan Juni nanti karena kondisi ekonominya yang sudah mulai pulih.

Signal pulihnya perekonomian AS ini bisa dilihat dari beberapa indikator seperti kondisi pasar tenaga kerja yang mulai beranjak membaik dan target inflasi 2% yang diyakini akan tercapai. Selain itu, kondisi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II juga diperkirakan akan jauh lebih baik di banding kuartal I lalu yang datanya cukup mengecewakan yaitu hanya mampu tumbuh 0,5%.

Rabu, 19 Juni 2013

Perubahan Kurikulum Dan Kepentingan Penguasa


Sudah lebih dari enam dekade perjalanan pendidikan di republik ini, namun belum ada satupun kurikulum yang berakhir dengan memuaskan. Hampir setiap Menteri  Pendidkan memiliki kebijakan kurikulumnya sendiri-sendiri. Tercatat dalam sejarah setidaknya  kita telah mengalami delapan kali perubahan kurikulum.

Perubahan kurikulum ini menandakan betapa dunia pendidikan kita ini masih belum stabil. Terkesan adanya selera yang berbeda di antara pembuat kebijakan. Bahkan dikalangan masyarakat terkenal adagium “ganti menteri ganti kurikulum”.

Minggu, 09 Juni 2013

Kegagalan Kaderisasi Parpol

Krisis pemimpin nasional ternyata masih menghantui bangsa kita. Munculnya stok lama yang akan bertarung dalam bursa pencalonan presiden 2014, menjadi bukti bagaimana proses regenerasi pemimpin nasional mengalami kemandulan.
Menurut pengamat politik Gun Gun Heryanto, sulitnya regenarasi pemimpin nasional karena disebabkan kegagalan partai politik dalam melakukan kederisasi. Menurutnya tradisi kepartaian di Indonesia masih dominan dengan tradisi feodal, oligarkis, dan transaksional.
Tradisi feodal ini bisa dilihat dari ketergantungan partai terhadap figur tertentu. Meski tradisi ini sudah tidak relevan lagi di alam demokrasi, namun tidak sedikit dari partai politik kita masih mempraktekannya.
Sedangkan oligarki bisa dilihat dari pola distribusi dan alokasi kader partai ke jabatan publik yang ditentukan oleh segelintir elite partai. Penentuan calon pejabat eksekutif atau calon pejabat legislatif harus mendapat restu dari pimpinan pusat partai.
Sementara praktik transaksional dapat dilihat dalam proses politik yang memiliki biaya tinggi karena ditentukan oleh siapa yang bisa memiliki kekuatan hadiah (reward power) berlebih. Artinya, mereka yang punya uanglah yang akan mengendalikan seluruh kebijakan partai. Tradisi inilah yang menurut Gun Gun sudah mapan dan terpola mereduksi pola-pola regenerasi.
Politik Figur
Sejak era reformasi banyak figur yang mendirikan partai politik. Namun ironisnya partai yang mereka dirikan tak mampu melahirkan figur yang mampu menggantinya.

Minggu, 04 November 2012

SAMPAH JADI BERKAH

sumber: narotama.ac.id
Sampah. Satu kata yang identik dengan kotor, jijik, dan bau. Karena bentuknya yang menjijikan itu seringkali sampah dianggap barang yang tidak berguna. Namun saat ini sampah mulai unjuk gigi. Barang yang bertahun-tahun dianggap tidak berharga kini bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah.
Sampah mulai dianggap barang yang bernilai ketika pada tahun 2008 ditemukan konsep tentang bank sampah. Konsep ini digagas oleh sosok Bambang Suwerda yang sehari-hari bekerja sebagai dosen. Ia gelisah ketika kampungnya mulai terjangkit wabah demam berdarah. Bermula dari rasa prihatin itulah sosok bambang mulai mengumpulkan warganya untuk turut serta menjaga kebersihan lingkungan dengan mendirikan bank sampah dengan nama Gemah Ripah yang menjadi pelopor Bank Sampah di Indonesia (kompas, 2010).

Jumat, 02 November 2012

Matinya 'orang tua' Mahasiswa


Analogi rektorat sebagai orang tua dan mahasiswa menjadi anak kini mulai tidak saya percaya lagi. Melihat tindakan mereka dalam mengambil keputusan-keputusan yang mematikan dan menghambat proses tumbuhnya jati diri mahasiswa, membuat saya semakin hilang rasa percaya terhadap kata “orang tua” yang disandang mereka.

Senin, 29 Oktober 2012

Libya Akankah Menjadi Boneka Amerika?

Sudah hampir satu pekan pasukan Nato menyerang Libya, namun belum ada tanda-tanda Khadafi mundur dan menyerahkan kekuasaannya pada oposisi. Malah perkembangannya hingga saat ini pasukan loyalis khadafi telah merebut kembali tiga kota yang sebelumnya dipegang oleh pasukan oposisi.