Ads 468x60px

Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label DIARY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DIARY. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Maret 2021

Anter Mertua Vaksin ke GBK (2)

Ada kejadian menarik dari isteri saya saat proses vaksinasi di dalam gedung Istora Senayan. Isteri saya cerita kalau di dalam ada saja kelakuan orang yang ingin menyelak antrian. Sehingga di dalam ada keributan kecil. Dan lucunya yang ribut adalah sesama lansia yang seharusnya dari segi usia sudah lebih dewasa. Dan bisa tertib antri. 

Untungnya panitia vaksinasi cukup tanggap. Sehingga keributan itu bisa segera teratasi. Panitia cukup cerdas ketika meredakan ketegangan antar lansia yang sedang ribut.

"Percuma bapak di sini ribut ribut. Kalau bapak bapak ribut tensi bapak akan naik dan bapak tidak akan dilayani kalau tensi tinggi."

Mendengar kata kata tersebut, dua orang lansia yang sempat ribut tadi akhirnya diam dan kembali ke jalur antrian masing masing.

Saat mertua saya tiba giliran divaksin. Pertama yang ditanya adalah soal riwayat penyakit dan apakah mengonsumsi obat-obatan sepeti obat jantung. Dan karena mertua saya tidak pernah mengonsumsi obat obatan sehingga bisa langsung divaksin. 

Setelah divaksin mertua saya masuk ke ruang observasi selama 20 menit. Ruang observasi ini bertujuan mengantisipasi ada gejala seperti demam sehabis divaksin. 

Jadi kurang lebih proses vaksin covid bagi lansia di GBK jika pendaftaranya lewat online itu dari mulai antri sampai menerima vaksin itu hanya sekitar 1 jam. 

Kamis, 18 Maret 2021

Sawi Putih, Hujan dan Cerita Soal Pompa Air

 Kamis, 18 Maret 2021

Hari ini isteri masak sayur sawi putih. Dia dapat resep dari tantenya. Masakan ini rasanya lumayan enak. Apalagi dicampur sama rebon. Rasa asinnya itu jadi lebih gurih.

Udara dari pagi hingga siang terasa panas. Tapi sorenya malah hujan deras. Saya kira musim hujan sudah selesai, ternyata masih ada sisa. Padahal cap go meh sudah lama lewat. Memang cuaca kali ini susah diprediksi. Beda waktu saya masih kecil. Zaman sekarang musim kemarau kadang ada hujan; begitupun sebaliknya.

Waktu hujan ada drama sedikit. Halaman samping rumah sejak di keramik jadi langganan buat genangan air. Penyebabnya memang resapan air kurang baik. Jadi sama tukang yang dulu pasang keramik, dibuatlah saluran ke luar dengan cara membobol tembok seukuran tiga ibu jari buat jalan air.

Nah, gara gara dibuat lubang jalan air, tikus dari luar bisa masuk. Makanya ditutuplah lubang tersebut dengan kawat. Persoalanya kita selalu terlambat buat membuka kawat penutup lubang. Makanya waktu ngebuka penutup lubang selalu kena tampiasan air hujan meski sudah pakai payung. 

Kali ini gilirian isteri yang membuka kawat penutup lubang. Biasanya saya yang membuka, tapi karena lagi mandi, isteri saya inisiatif untuk membuka penutup lubang tadi. Karena hujan begitu deras tentu saja badannya basah kena tampiasan air hujan. Sontak saja dia kesal. Karena memang kondisi dia baru selesai mandi. Cerita isteri saya kesal, lebih baik saya tutup sampai sini. Kalian cukup tahu kalau isteri saya kesal. Jadi tidak perlu digambarkan kelanjutannya. Lebih baik saya ceritakan kenapa akhirnya halaman yang dulunya buat taman itu dipasang keramik. Ceritanya begini:

Tahun lalu, Isteri memutuskan untuk bawa dua kucingnya ke rumah. Dulu kucing kucing itu tinggal di rumah orang tuannya. Karena tidak ada tempat lagi di rumah, maka terpaksa dipakailah tempat yang dulunya taman dijadikan buat tempat kucing. Di tempat kucing itu juga ada tempat buat pompa air. Karena lokasinya di taman, pernah pompa saya terendam banjir. Dan penyebab terendamnya itu karena penutupnya masih ada celah air untuk masuk. Pompa air hanya ditutup cetakan semen yang tiap sisinya masih ada celah bagi air  untuk masuk. 

Makanya waktu taman itu dipasang keramik. Saya dan isteri memutuskan untuk mengganti penutup pompa tadi. Kami ganti penutupnya dengan besi warna hitam persegi empat yang biasa terlihat di atas gorong gorong. Itu pun si tukang besinya buatnya masih ada celah. Makanya buat nutup celah itu kita pasang solasi hitam dan sampai saat ini lumayan berhasil menutup jalan air masuk ke mesin pompa air.

Rabu, 17 Maret 2021

Cerita Miris Si Miskin yang Istrinya Meninggal

Miris. Kata kata ini mungkin yang tepat untuk menggambarkan cerita di bawah ini. Barusan di kompas.com ada berita soal suami yang susah payah cari hutangan untuk mengubur jenazah istrinya yang meninggal. Sang isteri meninggal terkena penyakit kelenjar getah bening. Usianya baru 30 tahun. 

Istrinya meninggal hari minggu (14/3). Si suami tidak ada di tempat karena sedang bekerja. Setelah pulang kerja sekitar jam 3 sore, si suami mendapati tubuh istrinya sudah meninggal. Sekitar jam 4 sore, suaminya membawa jenazah sang istri ke rumah sakit. Sekitar 9 jam berada di rumah sakit, jenazah istrinya di bawa pulang ke kos an. 

Si suami, menurut penuturan tetangganya keluar kos an untuk mencari lokasi pemakaman dan balik lagi jam 9 pagi. Kemudian si suami keluar lagi untuk mencari ambulans dan menitipkan jenazah istrinya ke pemilik kos dan tetangga kosan nya. 

Si suami belum kembali dari mencari ambulans, tetangga kos an kemudian melapor ke polisi jam 11 pagi. Setelah warga lapor ke polisi, selang beberapa saat kemudian suami datang membawa ambulans gratis dari PMI. 

Dari kronologi berita tadi, saya justru bertanya soal sikap para tetangganya. Kenapa baru ditinggal dua jam untuk mencari ambulans kemudian melapor ke polisi? Apakah para tetangganya tidak bisa membantu mengurus jenazah.

Tetangganya bilang begini:

"Kasihan sudah meninggal, namun jenazah tidak segera dimakamkan, padahal sudah hampir 24 jam telantar di kamar kos."

Kalau memang kasihan kenapa tidak bahu membahu membantu kesusahan orang yang ditimpa kemalangan. Apakah di sana tidak ada orang yang bisa mengurus jenazah? Apakah di tempat itu tidak ada perangkat RT/RW dan perangkat desa?  

Apa penyebabnya? Apakah mungkin karena bukan warganya dan hanya numpang ngekos lalu jenazah dibiarkan begitu saja tanpa ada tetangga yang mau mengurus? Kalau alasannya benar seperti itu, saya kira kemanusiaan mereka patut dipertanyakan. 

Ungkapan kasihan seperti tetangga di atas pernah saya dengar beberap tahun lalu. Waktu itu, saya masih di pesantren. Ada salah satu pengurus yang menikah. Pengurus pesantren yang menikah ini kondisi ekonominya pas pas an. Jadi resepsinya sangat sangat sederhana. Resepsinya diadakan di halaman samping pesantren yang ukurannya hanya 4x4 meter. Singkat cerita, setelah selesai resepsi,  pasangan pengantin ini langsung membersihkan tempat yang digunakan untuk resepsi. Mulai dari angkat meja, kursi dan menyapu halaman  pesantren. Padahal itu adalah malam yang seharusnya sangat spesial bagi mereka berdua. Dan teman teman saya yang di pesantren hanya ngegosip dan bilang, "Kasihan ya kang A. Padahal ini malam pertamanya."

Apa yang saya lakukan. Saya bilang ke mereka. "Jangan cuma bilang gitu.  Ayo bantu."

Dan coba tebak. Yang akhirnya turun ikut bantu hanya saya dan teman saya satu orang. Dan mayoritas mereka tidak mau turun. Dengan berbagai dalih dan alasan. 

Moral cerita ini adalah: Banyak di luaran sana, ketika ada seseorang yang kena musibah atau kesusahan itu hanya bilang kasihan dan ngegosip. Tapi ketika suruh bantu, mereka ada saja alasannya. Bagaimana dengan anda? Apakah pernah mengalami kejadian seperti ini juga....




Senin, 15 Maret 2021

Lamanya Mengurus Kartu Keluarga

Hari ini saya ke kecamatan pengin ngurus soal kartu keluarga dan KTP. Ini sudah tiga bulan, sejak saya memutuskan cabut berkas dari daerah tempat tinggal lama.

Sebenarnya KK saya itu sudah jadi bulan lalu. Tapi ketika dicetak ada data yang salah. Berkas akhirnya saya kembalikan lagi, takut suatu saat malah bikin ribet kalau ada data yang berbeda. Data yang berbeda itu soal keterangan RT. Harusnya saya tinggal di RT 02 tertulis 03. 

Saya sampai kecamatan sekira jam 10 pagi. Antrian sudah sangat panjang. Tidak ada istilah jaga jarak. Orang saling berdempet ingin segera dilayani petugas. Petugas yang jaga di depan hanya dua orang. Mereka berdua terlihat sangat kewalahan menangani begitu banyak orang yang berdesakan. 

Saya akhirnya menunggu agak jauh sambil melihat berkurangnya antrian. Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, antrian sudah mulai agak lengang. Paling tinggal 7 orang yang mengrubungi dua petugas itu.

"Ini KK dan KTP saya sudah jadi belum pak?" tanya saya sambil menyodorkan draft KK dan tanda bukti pengurusan KTP.

"Lebih baik, foto copy dulu. Nanti saya masukin nomor antrian. Empat hari datang ke sini lagi saja sambil bawa bukti KK dan nomor antrian tadi. Terus bukti pengurusan KTP juga di copy ya. Nanti tulis saja No HP masnya di tanda bukti KTP itu. Nanti akan kami kabari lewat HP kalau sudah jadi," jawab petugas tadi sambil sibuk menata berkas.

Melihat jawaban petugas tadi, saya kok heran. Zaman sudah maju begini kenapa mengurus soal KK dan KTP bisa berbulan bulan begini. Saya melihat ada gap yang sangat besar antara kemajuan zaman dengan pelayanan Pemerintah kita. Terutama di Pemerintah daerah.

Zaman sekarang. Orang orang bilang adalah zaman digital. Segala sesuatu bisa dikerjakan dengan sangat cepat. Tapi entah kenapa Pemerintahan masih sangat lamban dalam bekerja.

Kenapa soal adminstrasi kependudukan mengurusnya perlu waktu berbulan bulan. Apakah persoalan adminstrasi kependudukan seperti pembuatan KK dan KTP itu tidak bisa lebih cepat? 

Aturan kependudukan kita sebenarnya telah bikin standar itu. Misalnya untuk pelayanan KK itu standarnya selesai dalam 7 hari. Tapi fakta di lapangannya sangat jauh panggang daripada api. Saya sendiri telah cerita kalau KK saya baru jadi setelah dua bulan. Itu pun ketika ada kesalahan harus menunggu kembali. Ini sudah jalan 1 bulan tapi belum ada kejelasan kapan revisi KK saya selesai.

Daerah yang sudah sangat bagus soal standar pelayanan kependudukan itu DKI. Itupun hasil dari reformasi yang dilakukan mantan gubernur Ahok. Dan saya berdoa semoga ke depan Indonesia punya kepala daerah yang seperti Ahok. Seorang reformis yang berani merubah sistem di pelayanan Pemerintahan.


Mahalnya Biaya Masuk TK

Teman saya cerita kalau anaknya baru saja masuk TK. Dia ingin anaknya dapat pendidikan yang terbaik sejak usia kanak kanak. Dia pilihlah satu TK favorit di sekitar rumahnya. 

"Berapa sekarang biaya masuk TK bro?" Tanya saya.

"Lumayan lah. Bisa bikin gue kudu mengencangkan ikat pinggang," Jawab dia sambil tertawa.

"Berapa spp per bulannya, 500.000?"

"Lebih bro. Spp per bulan 1.100.000"

"Kalau uang pangkal masuknya berapa bro?" Kembali saya bertanya penasaran.

"Untungnya biaya uang pangkalnya sejak belum lahir gue sudah nabung di tapenas. Jadi ya ngga terlalu berat," ungkapnya.

"Uang pangkalnya 16 juta. Makanya gue juga pengin bikin tapenas lagi buat nanti masuk SD dia," ujar teman saya. 

Saya mendengar nominal 16 juta sudah tidak terlalu kaget. Karena nominal itu jauh lebih rendah di banding sekolah TK unggulan di ibukota. 

Cuma saya jadi berpikir aja. Di republik ini untuk mencari pendidikan yang bagus itu ongkosnya tidak murah. Bagi saya yang cuma pekerja kantoran, kudu benar benar menabung demi mendapatkan pendidikan yang terbaik buat anak saya nanti. Paling tidak ide tapenas teman saya bisa saya adopsi. Meski konsekuensinya makan lauk tahu tempe dan selingan daging semingu sekali. Hehe....

Cerita Teman yang Kena Tipu

 Habis mengunjungi kuningan, saya dan teman saya pengin main ke kantor CSIS di tanah abang. Kantornya cukup besar. Letaknya di dalam gedung Pakarti Center. CSIS ini punya sejarah panjang di Indonesia dan termasuk salah satu lembaga Think Tank terbaik di republik ini. Di dalam kantor CSIS ada dua patung yang menarik bagi saya. Patung ini hanya menampilkan seperempat badan. Hanya dari kepala sampai pundak. "Ini patung siapa pak?" tanya saya penasaran ke penjaga kantor Pakarti.

"Oh, ini patung Pak Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani."

Ali Moertopo ini tokoh orde baru yang sangat disegani. Dia bapak intelejen di republik ini. Perannya terbilang sangat besar bagi orde baru sehingga bisa berkuasa selama tiga dekade. Kalau Soedjono dulu juga dikenal orang dekat Pak Harto. Pak Soedjono ini jenderal yang jadi asisten pak Harto di bidang Ekonomi dan Perdagangan. Pak Soedjono ini juga merupakan mertua dari tokoh betawi Fauzi Bowo, mantan Gubernur DKI yang dikalahkan Jokowi-Ahok.

"Wah, pantas saja CSIS begitu hebat dulunya sebagai lembaga think tank. Ternyata ada bapak intelejen dan Jendral hebat seperti Pak Soedjono di belakangnya," batin saya.

Setelah saya kagum sama dua patung tokoh hebat itu. Teman saya tiba tiba bercerita kalau ada teman kantor kita yang kena musibah. Musibah itu penipuan lewat WA. Modusnya begini: 

Si penipu kirim ke WA soal bantuan sosial tunai. Di sana ada link dan narasi yang mengatakan "Mereka yang bekerja antara tahun 2000 dan 2021 berhak menerima bantuan sosial finansial sebesar Rp 3.550.000."

Teman saya mungkin lagi lengah mengira itu benar dari BPJS Ketenagakerjaan. Karena di kantor saya dia yang memang mengurus soal BPJS kantor. Habis dia klik link pesan WA tadi. Tiba tiba kartu kreditnya kena bobol. Nominalnya cukup besar. Dan saat ini teman saya ini sedang mengurus masalah tersebut. Saya berdoa semoga urusanya cepat beres ya. 

Dan ini bisa jadi pelajaran bagi kita untuk jangan sekali kali mengklik pesan tautan atau link dari WA. Entah itu link hadiah atau semacamnya. Karena rata rata modus penipuannya ya seperti itu. Kalau kita klik, siap siap data pribadi kita nanti dicuri mereka. 

 


Kuningan, Kereta Cepat dan LRT

 Pagi ini saya berangkat kerja agak siangan ke kuningan. Saya berkunjung ke kantor di samping RS MMC. Gedung yang saya datangi gedung baru. Pengembangnya Hutama Karya Realtindo. Saya baru tahu Hutama Karya ternyata punya anak usaha pengembang properti. Selama ini taunya bidang usaha Hutama Karya cuma kontraktor dan jalan tol. Proyek propertinya juga cukup besar di kuningan ini. Tinggi gedungnya lebih dari 20 lantai. 

Ngomong-ngomong soal jalan di kuningan. Hari ini saya lihat jalannya cukup lengang. Tidak macet seperti biasanya. Padahal ini hari senin. Biasanya di hari senin, meski bukan jam sibuk tapi jalanan lumayan padat. Apakah karena kendaraan yang mau lewat kuningan masih terjebak di jalan tol? Kawan saya yang lagi di tol menuju Jakarta terjebak macet. Kata dia sih karena ada uji coba kendaraan yang akan mengangkut kereta cepat dari pelabuhan ke Walini Bandung. 

"Wah, ini berita gembira dong. Karena kereta cepat akan segera beroperasi?"  Tanya saya. Teman saya bilang kalau untuk beroperasinya sepertinya masih lama. Karena rumah dia yang tidak jauh dari lokasi rel kereta cepat, sampai saat dia belum melihat dipasang relnya. Yang baru ada tiang pancang untuk rel kereta cepat. Kemungkinan, kata teman saya, kereta cepat bisa beroperasi paling cepat dua tahun lagi. "Ya, tidak apa apa lah. Paling tidak kan ada progres pengerjaan tiap harinya. Yang penting jangan sampai mangkrak saja," kata saya. 

"Yang harusnya sudah beroperasi itu LRT. Itu sudah terpasang semua rel nya. Kereta LRT nya juga sudah ada. Kalau lu jalan lewat tol Jagorawai. Itu kereta LRT kelihatan persis di samping tol," begitu kata teman saya. 












Minggu, 14 Maret 2021

Mulai Mencatat Aktivitas Sehari-hari

 Seiring bertambahnya usia, saya merasa ada yang salah dengan daya ingatku. Saya gampang sekali lupa. Baru satu minggu mengerjakan sesuatu. Kalau seseorang teman tanya aktivitas yang satu minggu lalu saya kerjakan. Saya balik bertanya: "Yang mana ya". Maka mulai kini setidaknya lewat blog ini, saya ingin merekam apa yang telah saya kerjakan setiap hari. 

Paling tidak catatan ini nantinya bisa jadi jawaban kalau suatu waktu ada teman yang tanya soal peristiwa masa lalu. Saya bisa buka catatan di blog ini dan tidak lagi bertanya "Yang mana? Kapan ya?"

Minggu, 31 Mei 2020

Nonton Film Official Secrets

Hari ini akhirnya saya kesampaian juga menonton film Official Secrerts. Saya sudah download film ini sejak dua bulan lalu. Berhubung akhir pekan ini ngga ada kerjaan, akhirnya ngajak istri buat nonton film yg sudah lama jadi watchlistku ini.

Penilaianku sih, ini film benar bener keren banget. Apalagi lihat akting Kiera Knightly yang meranin Katherine Gun, itu membuatku takjub. Dia sangat sempurna jadi pemeran utama di film ini. Jadi ada tambahan akrtis favorit setelah Natalie Portman dan Julia Robert.

Menonton film ini kalian akan disuguhkan bagaimana perasaan seorang pembocor rahasia. Ternyata, risiko menjadi pembocor rahasia itu sungguh berat. Bagaimana setiap hari anda akan dilanda kecemasan dan ketakutan. Apalagi yang dilawan adalah Pemeritah yang punya berbagai macam alat kekuasaan. 

Film ini juga menggambarkan bagaiamana elit politik di tingkat global ternyata tidak semuanya bersih. Banyak juga oknum politisi busuk. Bahkan dampak dari kebijakannya itu sungguh sangat mengerikan. 

Bagi, kalian yang mau nonton, saya sangat rekomendasikan buat nonton film ini. 

Rabu, 18 Mei 2016

Ada Apa?


Pekan lalu saya sempat bertemu teman yang sedang mengalami gundah gulana. Sebut saja namanya, Ade, dia lulusan perguruan tinggi swasta di wilayah jakarta selatan. Dia mengaku bingung dengan kondisi pemerintah saat ini. "Sebenarnya fokus Pemerintah saat ini itu apa? kok situasinya kian memprihatinkan," kata dia dengan tubuh lemas.

Senin, 29 Oktober 2012

Pengalaman Modus Kejahatan di Kopaja

jakartacommuter.com

Di tengah panasnya kota Jakarta, jumat 14 september aku baru pulang dari palmerah selatan menghadiri acara briefing  penelitian kompas. Aku putuskan saat itu juga untuk pulang naik 102 dari depan hotel mulia.  Kurang lebih aku menunggu sekitar 15 menit mobil yang kunanti akhirnya datang juga. Saat kakiku mulai melangkah dalam bus aku melihat tidak terdapat bangku kosong. “Yah berdiri deh, “ ucapku dalam hati.